Search
  • Grand Pangandaran

Calon Primadona Jabar Selatan



Reposted by Grand Pangandaran from Bisnis Indonesia: (https://koran.bisnis.com/read/20190921/436/1150820/kek-pangandaran-calon-primadona-jabar-selatan)



Pembangunan Grand Pangandaran diproyeksikan bakal menunjang Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Pangandaran. Pengembangan kawasan itu kini tengah digenjot oleh PT Pancajaya Makmur Bersama.


Rumah toko (ruko) dan Vila The Allure Villas sudah mulai berdiri. Pembangunan Grand Pangandaran yang mengusung konsep Kota Pesisir ini sudah mulai tampak.


Pembangunan fasilitas lainnya juga sudah berdiri di lahan seluas 196 hektare tersebut. Kawasan yang ditargetkan mengantongi status KEK pada akhir tahun ini juga siap meresmikan 56 ruko yang berada di sepanjang jalan provinsi dalam waktu dekat ini.


Asisten Direktur Grand Pangandaran Kuswanto memastikan bahwa pihaknya sudah mengantongi seluruh perizinan. Alhasil, kalangan masyarakat dan juga investor tidak perlu khawatir mengenai status lingkungan Grand Pangandaran.


Terlebih, pihaknya juga berkomitmen akan menjadikan 30% dari seluruh luas lahan di kawasan tersebut menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).


Langkah nyata yang ditempuh yakni di antaranya tidak menebang deretan pohon kelapa yang berada di Kawasan Grand Pangandaran. Konsekuensinya, pihak Grand Pangandaran dalam pengerjaan bangunan fisik menyesuaikan dengan peta rencana pembangunan.


“Seluas 2.000 meter kavling nantinya yang akan dipasarkan untuk keperluan komersial seperti convention hall, vila, mal, theme park, dan lainnya juga sudah siap dipasarkan,” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.


Grand Pangandaran yang mengusung misi ‘membangun dan menyejahterakan masyarakat Pangandaran’ itu memastikan untuk mendorong gairah pariwisata di Kawasan Pangandaran. Bahkan, dengan berdirinya Grand Pangandaran diyakini akan menyerap 63.000 sumber daya manusia di daerah setempat.


Kuswanto menuturkan, permasalahan klasik yang terjadi di masyarakat Pangandaran masih berkutat pada kesadaran pendidikan yang hingga kini dinilai belum cukup kuat. Menurut dia, banyak generasi muda asal Pangandaran yang baru menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus berhenti mengenyam pen­didikan untuk merantau dan keba­nyakan bekerja menjadi buruh.


Kehadiran Grand Pangandaran selanjutnya memberikan angin segar. Generasi muda Pangandaran tidak lagi harus mengadu nasib ke luar kota untuk menjadi buruh. Justru, para pemuda ini akan dicetak menjadi tenaga profesional pariwisata di tengah kebutuhannya yang cukup tinggi di daerah setempat.


Kabupaten Pangandaran memiliki lebih dari 200 titik wisata yang diharapkan membuka peluang dan membutuhkan sumber daya manusia pariwisata yang profesional.


Selain itu, setelah mengantongi status KEK, kawasan tersebut diyakini mendongkrak perkembangan pariwisata di Pangandaran.


DUKUNGAN PEMERINTAH

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menetapkan Pangandaran sebagai pendulum ekonomi di kawasan Jabar Selatan ke depan.


Gubernur Jabar Ridwan Kamil me­nga­takan bahwa pihaknya sedang menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk meng­optimalkan Bandara Nusa­wiru, Cijulang, Pangandaran. Tu­juan­nya sudah jelas, supaya ak­ses wisatawan menuju ke wila­yah Pangandaran menjadi lebih mudah.


Dari rapat terakhir yang di­pim­pin, gubernur bersama dengan jajaran Pemkab Pa­­ngan­daran sepakat untuk men­dorong pembukaan penerbangan Ban­dung—Pangandaran sebelum akhir tahun ini.


Ridwan Kamil mengatakan bahwa pihaknya bersama dengan sejumlah pihak terkait terus mengkaji rencana pembukaan penerbangan tersebut.


“Hasil rapat terakhir, akan ada penerbangan ke Pangandaran, dengan kondisi apa adanya dari Husein ke Nusawiru,” katanya.


Menurutnya, dalam rapat juga dibahas rencana tiket yang diterapkan oleh pihak maskapai Transnusa. “Harganya antara Rp400.000—Rp600.000-an sekali pergi. Nanti sama media dites saja kira-kira masyarakat mau? Karena tiket ke Jakarta yang 20 menit Rp400.000-an, ke Pangandaran 25—30 menit, jadi agak mahal sedikit,” tuturnya.


Dengan kisaran harga dan waktu penerbangan yang sudah diperkirakan tersebut, pihaknya berharap masyarakat merespons dengan positif sehingga rencana itu bisa segera direalisasikan.


“Saya akan menugaskan Disbudpar untuk mendiskusikan ini dengan pihak travel Bandung dan sekitarnya guna merespons ini secepatnya,” katanya.


Apabila penerbangan rute Ban­dung—Pangandaran ini berhasil dibuka, pihaknya berkomitmen untuk mendorong Transnusa membuka penerbangan Jakarta—Pangandaran.


“Saya belum tahu teknisnya, tetapi pertama-pertama mungkin dua hari sekali dulu, lama-lama sesuai permintaan, nanti pakai ATR70,” ujarnya.


Ridwan Kamil menilai, pelayanan penerbangan memang memiliki segmentasi terbatas, teteapi warga yang memiliki anggaran tidak besar bisa menggunakan layanan kereta api dari Bandung—Banjar lalu perjalanan disambung ke Pangandaran. “Kalau naik pesawat 25 menit duduk, langsung liat pantai,” katanya.


Di luar itu, pihaknya saat ini sudah menganggarkan dana sebesar Rp80 miliar untuk penataan pesisir Pantai Barat dan Timur Pangandaran pada tahun ini. Apalagi, pengajuan KEK Pangandaran kepada Pemerintah Pusat telah menemui titik terang.


“Dukungan dari Pemprov lahir batin Rp80 miliar tahun ini sudah kami siapkan untuk penataan Pantai Timur dan Barat. KEK juga sudah didaftarkan dan sudah masuk babak final untuk disetujui,” tuturnya.


Bupati Pangandaran Jeje Wira­dina­ta mengatakan dukungan Pem­prov Jabar mengembangkan Pa­ngan­daran sudah sangat tinggi. Rid­wan Kamil menurutnya ingin men­jadikan Pangandaran sebagai tujuan wisata berkelas di Jawa Barat.


“Beliau sangat serius ingin menata Pangadaran, termasuk penerbangan Bandung—Nusawiru yang sedang dijajaki itu,” katanya.


Pemkab kini tengah menggenjot komunikasi dengan sejumlah biro perjalanan wisata untuk memasarkan potensi destinasi Pangandaran. Selain itu, pemda juga mendorong masuknya investor dengan adanya peluang berdirinya KEK pertama di Jawa Barat itu. “Kekuatan kita di pantai sebagai tujuan utama pariwisata. Setelah itu baru ke objek-objek wisata yang lain,” ujarnya.


Bukan hanya penataan pantai, pihaknya juga memastikan urusan pedagang kaki lima sudah tuntas ketika KEK beroperasi.


Saat ini, Pemkab Pangandaran tengah mendorong agar masyarakat sekitar menjadi sumbu utama pariwisata setempat. Jeje mengatakan, pemkab mencontoh daerah Bali yang sukses dengan pecalangn atau penjaga wilayah.


“Kita juga punya, namanya Jaga Lembur, mengajak masyarakat men­jaga keindahan pantai.”


PERSOALAN SAMPAH

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat mendapat tugas dari Gubernur Jabar Ridwan Kamil untuk menuntaskan persoalan sampah di kawasan objek wisata Pangandaran.


Kepala Dinas Pariwisata dan Ke­budayaan (Kadisparbud) Jabar Dedi Taufik mengatakan bahwa produksi sampah di Pangandaran menjadi masalah serius seiring dengan tingginya kunjungan wisa­ta­wan.


Pihaknya mengaku sudah me­nyiap­kan solusi jitu mengatasi sam­pah kawasan yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan itu.


Rencananya, skema penanganan sampah akan dilakukan dengan memberikan kantong sampah kepada wisatawan di loket tiket. Nantinya, wisatawan diminta untuk menukarkan sampah tersebut ke loket tiket sebelum meninggalkan Pangandaran.


“Nah, kantong sampah ini, nanti selama dia stay di Pangandaran satu hari atau dua hari, kembalinya itu ditimbang, terutama yang sampah sampah anorganik. Ini yang perlu kita berdayakan, dan mohon dukungan dari berbagai pihak,” tuturnya.


Untuk mendorong pengelolaan dan menekan timbunan sampah di kawasan wisata, pemkab sedianya juga akan menerapkan hal yang sama di sejumlah destinasi wisata daerah setempat.


“Nantinya akan diterapkan, tidak hanya di Pangandaran, tetapi juga di berbagai destinasi lainnya di Jabar.” - Dea Andriyawan/Bisnis Indonesia


3 views

(0265) 630567

©2019 Grand Pangandaran. Proudly created by Inisago.